Hai, salam kenal! Saya Sandy, seorang videografer juga fotografer di Targaryen. Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya yang menurut saya paling berkesan selama saya bekerja di Targaryen π.
Jadi, pada akhir tahun 2023 menjelang 2024, saya mendapatkan job yang sangat menyenangkan. Job ini merupakan dokumentasi untuk seorang dokter lulusan FKUB yang bernama dr. Sadi Hariono dan istrinya yang bernama Endang, atau kerap dipanggil Bunda Sadi. Mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki Rumah Sakit Prima Husada yang berlokasi di Mondoroko dan Sukorejo.
Pada akhir tahun 2023, mereka ingin memenuhi cita-cita mereka, yakni bergowes sejauh 1000 KM dari Jakarta menujuKota Malang, tepatnya ke FKUB.
Di hari pertama ketika memulai gowes dari Jakarta menuju Bandung yang berjarak 187.12 KM, keseruan yang saya dapatkan selain menjadi seorang videografer adalah saya bisa melihat atau mendatangi monumen-monumen ikonik di Jakarta. Ya, meskipun tidak lama, tapi itu cukup seru bagi saya yang pertama kali ke Jakarta.
Lalu sesampainya di Bandung, Bunda Sadi sudah merencanakan kalau kita sampai di sana pukul 18:00 atau 19:00, saya akan diajak jalan-jalan ke mall yang ada di Bandung. Tapi itu semua tidak jadi karena dr. Sadi yang sedang menggowes baru sampai di Bandung pukul 21:00 malam. Sesampainya di hotel, beliau langsung istirahat untuk melanjutkan gowes keesokan harinya. Tapi batalnya jalan-jalan ke mall bukanlah hal yang serius bagi saya, karena saya juga capek π. Jadi sayajuga memutuskan untuk istirahat dan bangun pagi untuk bersiap-siap melanjutkandokumentasi gowes dr. Sadi dan Bunda Sadi.
Lalu pagi pun tiba. Di sana, Bunda punya rencana untuk melakukan prank kepada dr. Sadi yang pada tanggal itu, 31 Desember 2023, sedang berulang tahun. Bunda Sadi bilang ke saya seperti ini:
“Sandy, nanti saya akan pura-pura memarahi dr. Sadi karena dia ulang tahun. Jadi siapkan kameramu untuk merekam momen ini, tapi jangan sampai dr. Sadi mencurigainya ya.”
Di situ saya melakukan apa yang diarahkan oleh Bunda Sadi. Saya merasakan ketegangan karena Bunda memarahinya seperti betulan, padahal itu cuma prank. Yang membuat saya kagum adalah dr. Sadi yang walaupun kebingungan, tetap tenang dan sabar menghadapi kemarahan istrinya itu, meskipun ternyata cuma prank.
Lalu supir Bunda Sadi pun tiba-tiba datang dan bernyanyi “Selamat Ulang Tahun”, dan prank pun berhasil… ya meskipun tegang dikit, hahaha π.
Lanjutlah gowes hari kedua dari Bandung menuju Purwokerto, yang berjarak 250.73 KM. Pada hari itu, Bunda Sadi tidak ikut gowes. Beliau berada di mobil yang selalu mengikuti dari belakang dr. Sadi yangsedang menggowes. Hari itu tidak terlalu banyak keseruan, tapi ada hal yang membuat saya kagum: di hari ulang tahunnya yang ke-60, dr. Sadi masih memiliki fisik yang sangat kuat. Hujan, panas, dan dinginnya cuaca berhasil dilewati oleh dr. Sadi tanpa rasa takut atau ragu.
Bunda Sadi sebagai seorang istri juga tetap support suaminya dengan sesekali mendahului lalu menunggunya di pinggir jalan sambil menyoraki:
“Ayoo Opaa semangatt!!”
Itu membuat saya benar-benar kagum dengan pasangan ini.
Sesampainya di Purwokerto pukul 16:00, saya tidak menyangka dr. Sadi bisa menyelesaikan hari keduanya dengan luar biasa.
Lalu, malam tahun baru di sana menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Pada malam itu, saya bisa merasakan mengikuti event atau pesta di hall sebuah hotel. Biasanya saya sebagai tim dokumentasi, tapi kali ini saya merasakan jadi tamu hotel yang bisa duduk di round table dan mencoba makanan-makanan mewah.
Setelah event, saya keluar hotel untuk menerbangkan drone dan mencari footage kembang api. Saya kembali ke hotel pukul 01:00 dan lanjut mengedit footage itu hanya untuk sebuah story Instagram saya π . Saya baru bisa tidur pukul 03:00, dan pukul 05:00 saya sudah harus siap karena gowes akan dilanjutkan pukul 06:00.
Tapi apa yang terjadi?
Yaaa… saya ketiduran π« .
Bunda Sadi sampai masuk ke kamar hotel saya dan membangunkan saya sendiri!
Kalau orang lain mungkin akan menyuruh staf hotel atau orang lain, tapi bunda menggap saya seperti anaknya sendiri dan malah membangunkan saya langsung. Bahkan beliau sampai memanggil petugas hotel karena khawatir saya kenapa-kenapa. Terakhir, bunda sampai menyiram saya pakai air agar bangun… dan akhirnya saya pun terbangun π.
Lalu pagi pun tiba. Gowes berlanjut dari Purwokerto menuju Yogyakarta yang berjarak 188.70 KM. Hari itu tidak banyak keseruan karena cuaca sangat panas dan melelahkan. Tapi sekali lagi saya kagum dengan dr. Sadi yang tidak menyerah sedikit pun meski cuaca sangat ekstrem.
Hari keempat, dari Yogyakarta menuju Tulungagung sejauh 250.71 KM, ada seorang mahasiswa UB bernama Abdul yang gowes dari Malang ke UB hanya untuk menemui dr. Sadi dan ingin ikut menemani gowesnya.
Cuaca sangat tidak bersahabat: dari panas hingga hujan, tapi dr. Sadi dan Abdul tetap menerjang dan melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di Tulungagung, dr. Sadi disambut oleh alumni-alumni UB yang juga ingin menemani gowes terakhir dari Tulungagung menuju Malang, sejauh 127.88 KM.
Pada rute terakhir ini, semua berjalan lancar… sampai sahabat dr. Sadi yang bernama dr. Johan melakukan prank. Mereka awalnya berjanji akan finish bareng di Malang, tapi ternyata dr. Johan sengaja melambat di Tulungagung, dan malah sampai di Malang lebih dulu dengan cara… numpang mobil medis! Hahaha π€£.
Sesampainya di Malang, ekspresi dr. Sadi terlihat sedikit kecewa karena sahabatnya ternyata tidak finish bersamanya. Tapi setelah sampai di FKUB, banyak orang sudah menunggu, dan suasana jadi sangat meriah.
Ternyata… surprise kedua muncul!
Dr. Johan sudah menunggu di sana, dan suasana pun pecah dengan tepuk tangan dan sorak-sorai. Banyak wartawan juga hadir untuk meliput momen luar biasa ini.
Tiga hari setelah itu, saya sudah menyelesaikan video recap dari perjalanan gowes tersebut. Bunda Sadi mengundang saya ke acara Dies Natalis UB, acara reuni dan pemberian penghargaan kepada dr. Sadi karena telah meraih Rekor MURI sebagai lansia yang gowes sejauh 1000 KM.
Yang membuat saya semakin terharu adalah ketika video yang saya edit diputarkan di hall itu dan ditonton ratusan orang. Reaksi mereka sangat meriah, semua bertepuk tangan karena terkesan dengan perjuangan dr. Sadi.
Saya sebagai seorang videografer merasa sangat bangga karena telah memberikan sebuah kenangan yang tidak akan dilupakan oleh dr. Sadi dan Bunda Sadi.
—
Jadi, cerita saya di atas adalah pengalaman paling berkesan selama saya bekerja di Targaryen π.

fyi foto itu di foto oleh bunda sadi menggunakan ponselnyaπ